Detail Opini Siswa

Riak Air Menjelang Ramadhan

Selasa, 14 Juli 2026 08:11 WIB
  27 |   -

Riak Air Menjelang Ramadhan 
(Karya Arti Kusuma Dini Asiandaru)

 

Saka adalah seorang anak yang tinggal di sebuah desa kecil di lereng gunung. Rumahnya sederhana, berdinding kayu dengan atap genting yang mulai ditumbuhi lumut tipis. Di sekeliling rumah, pepohonan tinggi berdiri rapat, menaungi halaman yang selalu dipenuhi bayangan daun. Udara di desa itu sejuk sepanjang hari, bahkan saat matahari berada di puncaknya. Setiap pagi, embun masih menggantung di ujung rumput, dan kabut tipis turun perlahan menyelimuti perbukitan di kejauhan.

Dari kejauhan, samar-samar terdengar suara ayam berkokok bersahutan, bercampur dengan desir angin yang menyusup di antara daun-daun. Sesekali, suara bambu yang saling bergesekan menciptakan irama alami yang menenangkan. Desa itu hidup dalam kesederhanaan, tetapi penuh dengan ketenangan yang jarang ditemukan di tempat lain.

Ia hidup bersama ibunya, sementara ayahnya bekerja di kota dan jarang pulang. Kehidupan mereka berjalan sederhana, dipenuhi rutinitas yang tenang menyapu halaman setiap pagi, memasak di dapur kecil dengan tungku kayu, dan menikmati sore di teras rumah sambil memandangi langit yang perlahan berubah warna.

Meski telah lama tinggal di sana, Saka merasa masih banyak hal yang belum ia pahami, terutama tradisi-tradisi yang dijalankan warga desa. Ia lebih sering memperhatikan dari jauh daripada ikut terlibat.

Pagi itu terasa berbeda dari biasanya. Ketika Saka membuka jendela kamarnya, udara dingin langsung menyentuh wajahnya. Kabut masih menggantung rendah, membuat pemandangan tampak samar. Namun di balik itu, ia melihat beberapa warga berjalan beriringan menuju arah sungai. Mereka membawa ember, sabun, serta pakaian ganti. Langkah mereka tampak ringan, dan wajah mereka terlihat cerah, seolah menyambut sesuatu yang istimewa.

Saka memperhatikan cukup lama.

“Tumben ramai…” gumamnya pelan.

Rasa penasaran perlahan tumbuh. Ia menutup jendela, lalu berjalan menuju dapur. Di sana, ibunya sedang menuang teh hangat. Uap tipis mengepul dari cangkir, membawa aroma yang menenangkan.

“Bu, itu orang-orang pada ke mana?” tanyanya.

Ibunya menoleh sekilas. “Ke sungai. Mau padusan.”

Saka mengernyit, mencoba memahami. Ia belum pernah benar-benar memperhatikan tradisi itu sebelumnya.

“Padusan itu… apa?” tanyanya lagi.

Ibunya tersenyum kecil, lalu menjelaskan dengan suara lembut. Tradisi itu bukan sekadar mandi di sungai, tetapi sebuah simbol untuk membersihkan diri sebelum memasuki bulan Ramadhan membersihkan tubuh sekaligus hati. Tentang memaafkan, melepaskan kesalahan, dan memulai sesuatu dengan niat yang lebih baik.

Penjelasan itu sederhana, tetapi meninggalkan kesan dalam diri Saka. Ia tidak langsung menjawab. Hanya diam, memandang uap teh yang perlahan menghilang di udara, seolah memikirkan sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami.

Menjelang siang, ia memutuskan untuk pergi ke sungai. Langkahnya pelan saat menyusuri jalan setapak. Tanah masih lembap oleh embun, dan jejak kakinya meninggalkan bekas tipis yang perlahan menghilang. Dedaunan bergesekan pelan tertiup angin, menciptakan suara yang menenangkan. Cahaya matahari mulai menembus sela-sela pepohonan, membentuk garis-garis cahaya yang jatuh di tanah seperti lukisan alami.

Di sepanjang perjalanan, ia melewati rumah-rumah warga dengan halaman yang rapi, jemuran pakaian yang bergerak pelan tertiup angin, serta kebun kecil dengan tanaman yang tumbuh subur. Aroma tanah basah dan daun-daun segar memenuhi udara. Semakin jauh ia melangkah, suara gemericik air mulai terdengar awalnya samar, lalu semakin jelas, seperti panggilan yang lembut namun terus menariknya mendekat.

Sesampainya di sungai, langkahnya terhenti sejenak. Pemandangan di hadapannya begitu indah. Air mengalir jernih di antara batu-batu besar yang tersusun alami. Cahaya matahari yang menembus sela daun menciptakan pantulan berkilau di permukaan air. Pepohonan di sekitar sungai membuat suasana terasa teduh, sejuk, dan damai.

Udara di sana berbeda lebih segar, lebih hidup. Warga sudah berkumpul. Ada yang berbincang santai, ada yang tertawa kecil, dan ada yang mulai membasuh tubuh dengan air sungai. Anak-anak berlari di tepi air, sementara beberapa orang tua duduk di batu besar, memperhatikan dengan senyum tenang.

Saka berdiri di tepi sungai, merasakan udara dingin yang bercampur dengan aroma air dan tanah basah. Lalu, seorang anak mendekatinya.

“Kamu baru pertama kali, ya?”

Saka mengangguk. “Iya.”

“Ayo turun,” ajaknya singkat.

Saka ragu sejenak, lalu perlahan menuruni batu yang licin. Ia berhati-hati menjaga keseimbangan. Saat kakinya menyentuh air, sensasi dingin langsung menjalar hingga ke seluruh tubuhnya.

“Dingin banget…” katanya pelan.

Anak itu tersenyum kecil. “Nanti juga biasa.”

Saka mulai membasuh wajahnya. Air terasa segar, seolah menghapus rasa lelah yang tidak ia sadari sebelumnya. Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan air mengalir di kulitnya.

Ia memperhatikan aliran air yang bergerak tanpa henti. Dedaunan kecil hanyut mengikuti arus, sementara riak-riak air terbentuk setiap kali menyentuh batu. Suara air itu konstan, tidak pernah benar-benar diam, tetapi justru memberi ketenangan.

Di bagian tengah sungai, arus tampak lebih deras. Air mengalir lebih cepat, membentuk pusaran kecil di antara batu besar. Beberapa anak bermain di sana, tertawa riang, seolah tidak merasakan bahaya.

Saka sempat menatap ke arah itu.

“Aman, ya di sana?” tanyanya pelan.

Anak di sampingnya menggeleng. “Arusnya deras. Jangan ke sana.”

Saka mengangguk, lalu kembali menepi. Ia memilih tetap di tempat yang aman. Dalam diam, ia mulai memahami bahwa tidak semua hal harus dicoba hanya karena terlihat menyenangkan.

Ia duduk di atas batu, membiarkan kakinya tetap terendam air. Sensasi dingin yang tadi terasa menusuk kini berubah menjadi nyaman. Perlahan, tubuhnya menyesuaikan, seperti pikirannya yang mulai memahami makna dari semua ini.

Beberapa waktu kemudian, suasana mulai berubah. Percakapan yang tadi ramai perlahan mereda. Warga berkumpul di tepi sungai. Mereka berdiri atau duduk dengan sikap lebih tenang. Tidak ada yang memaksa, tetapi semua seolah tahu bahwa ada momen yang perlu dihargai bersama.

Pak Lurah berdiri di atas batu besar. Dengan suara tenang, ia mulai berbicara tentang Ramadhan yang akan datang. Tentang pentingnya membersihkan diri, bukan hanya dari kotoran yang terlihat, tetapi juga dari hal-hal yang tidak terlihat dari kesalahan, dari amarah, dari kata-kata yang pernah melukai. Tentang memaafkan sebelum memulai lembaran baru.

Saka menunduk, menatap air yang mengalir di kakinya. Kata-kata itu tidak terdengar keras, tetapi terasa dalam. Perlahan meresap, seperti air yang menyentuh kulitnya. Ia teringat sesuatu.

Beberapa hari lalu, ia membentak ibunya hanya karena hal sepele. Saat itu ia merasa biasa saja, bahkan tidak memikirkannya lagi. Namun kini, ingatan itu kembali dengan perasaan yang berbeda.

Ada sesak kecil di dadanya. Ia menatap riak air di depannya. Air itu terus bergerak, tidak pernah berhenti, tidak pernah kembali ke arah semula. Ia bertanya dalam hati, apakah manusia juga bisa seperti itu bergerak maju, meninggalkan kesalahan, tanpa harus terus membawa beban yang sama?

Ia menarik napas perlahan. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar mengerti. Sepulang dari sungai, langkah Saka terasa lebih pelan. Jalan setapak yang tadi terasa hidup kini terasa sunyi, tetapi bukan sunyi yang kosong melainkan sunyi yang penuh dengan pikiran. Langit mulai berubah warna. Cahaya matahari tidak lagi seterang siang, tetapi lebih hangat, condong ke arah keemasan. Bayangan pepohonan memanjang di tanah.

Sesampainya di rumah, ia melihat ibunya sedang menyapu halaman. Daun-daun kering jatuh perlahan dari pohon, bergerak mengikuti arah angin. Saka berhenti sejenak. Ia memperhatikan ibunya lebih lama dari biasanya cara ia menggenggam sapu, gerakan tangannya yang teratur, wajahnya yang tenang.

“Bu…” panggilnya.

Ibunya menoleh. “Iya?”

Saka menarik napas dalam-dalam.

“Maaf ya… kemarin aku marah.”

Hening sejenak. Angin berhembus pelan, menggoyangkan daun di atas mereka.

Ibunya tersenyum lembut. “Iya, Ibu maafkan.”

Jawaban itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat dada Saka terasa lega. Seolah ada beban yang selama ini ia simpan, kini perlahan menghilang tanpa suara. Malam harinya, Saka duduk di teras rumah. Langit tampak bersih, dipenuhi bintang yang berkelip. Udara dingin kembali menyelimuti desa, dan suara jangkrik terdengar bersahutan.

Dari kejauhan, terdengar suara air sungai yang samar, terbawa angin malam. Ia teringat air tadi siang dingin saat pertama kali menyentuh, tetapi kemudian terasa menenangkan.

“Bu,” katanya pelan, “padusan itu… bukan cuma mandi, ya?”

Ibunya tersenyum. “Iya.”

Saka mengangguk pelan.

“Lebih ke hati…”

Ia menatap langit cukup lama. Dalam dirinya, ada perasaan baru yang tumbuh perlahan. Tidak besar, tidak juga mencolok, tetapi cukup untuk membuatnya merasa berbeda. Menjelang Ramadhan, Saka merasa seperti memulai sesuatu yang baru. Bukan perubahan besar, bukan sesuatu yang langsung terlihat, tetapi sesuatu yang tumbuh dari dalam perlahan, diam, namun pasti. Seperti riak air di sungai yang terus mengalir, menyentuh batu, membentuk gelombang kecil, lalu menghilang dan digantikan oleh riak berikutnya. (2026)


Komentar

×
Berhasil membuat Komentar
×
Komentar anda masih dalam tahap moderator
1000
Karakter tersisa
Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini