Detail Opini Siswa

Padepokan Adem Ayom Ayem, Kisah Mbah Raden: Pejuang Seni, Pendidik Muda-Mudi

Selasa, 14 Juli 2026 08:11 WIB
  18 |   -

Padepokan Adem Ayom Ayem, Kisah Mbah Raden: Pejuang Seni, Pendidik Muda-Mudi”

*Chika Avrillia putri

Perjalanan saya dimulai dari setitik rasa penasaran tentang seorang tokoh yang saya kenal melalui teman saya, Mbah Raden namanya. Ya! Betul Mbah Raden sapaannya. Kisah mantan guru desa yang hobinya belajar seni budaya Jawa, kisah Mbah Raden menggugah minat saya untuk menggali perjalanan hidup beliau. Sampailah saya di sebuah daerah yang sangat terkenal dengan cerita rakyat Jaka Tarub yaitu Desa Godan, Tawangharjo, Grobogan. Padatnya mobilitas jalan disertai hamparan sawah menemani perjalanan saya. Alat-alat musik jawa tradisional, barang-barang antik dan perpustakaan kecil di sebelah kiri menggugah mata saya saat tiba di kediaman Mbah Raden. Perasaan nyaman itu hadir saat saya masuk ke dalam padepokan beliau. Tidak mewah dan besar. Sederhana dan nyaman untuk disinggahi.

“Mbah Raden tuh ga pernah mau diam di rumah, ada aja kegiatan baru yang dicarinya” begitu penjelasan dari Mbah wedok (69) istri dari Mbah Raden. Nama asli beliau adalah Mbah Suyadi. Namun orang-orang lebih mengenal dengan sapaan “Mbah Raden” sebuah panggilan yang menemani Mbah Raden selama 60 tahun, dari masih anak-anak hingga kini menginjak usia 70 tahun. Jangan kaget dengan usia Mbah Raden loh, ya! Pengalaman Mbah Raden selama 60 tahun menggeluti seni budaya Jawa tidak lepas dari kesehariannya mengajari anak-anak di padepokan miliknya.

 

Masa Kecil dan Belajar Otodidak

            Perjalanan Mbah Raden tentu tidak semulus jalan tol ya! Sejak kecil, beliau memang sudah tertarik dengan kesenian budaya Jawa. Di usia 10 tahun Mbah Raden mulai tertarik mengikuti karawitan. Waktu itu Mbah Raden tidak memiliki guru yang mengajarinya secara khusus, beliau belajar secara otodidak. Dari kerawitan Mbah Raden mulai jatuh hati untuk terus mempelajari apa yang belum ia ketahui dan kuasai. Duh! Semangat 45 sekali ya Mbah Raden.

“Saya mulai serius tuh saat SMA, yang awal nya pas SD dan SMP cuma buat mengisi waktu luang sekarang malah jadi kebiasaan untuk terus belajar banyak hal-hal baru, salah satunya cara membuat dan memainkan wayang dan topeng,”Jelasnya. Fun fact nya nih, Mbah Raden belajar cara membuat dan menggunakan wayang serta topeng secara otodidak. Keren, bukan? Semangat Mbah Raden untuk terus belajar membuatnya terus menerus menapaki panggung demi panggung seni pertunjukan.

Semangat Mbah Raden tidak berhenti sampai disitu loh teman-teman! Mbah Raden masih suka belajar sampai sekarang. Beliau memiliki hobi menulis geguritan atau puisi dalam bahasa Jawa dan suka membaca buku serta novel. Tumpukan buku, majalah serta geguritan atau puisi buatan Mbah Raden tertata rapi di perpustakaannya.

Saat Pensiun Jadi Titik Nol

Bagi sebagian orang pensiun kerap diartikan menikmati sisa hidup dengan bersantai, namun bagi Mbah Raden, masa pensiun justru menjadi titik balik hidupnya. Mbah Raden kala itu ialah guru SD di desa Godan. Setelah beliau pensiun mengajar, beliau merasa sisa hidupnya tidak bisa dihabiskan hanya dengan berdiam diri di rumah.

Awalnya Mbah Raden hanya memperkenalkan permainan tradisional kepada anak-anak di sekitar balai desa setiap sore hari. Hingga kini mbah raden sudah menguasai 73 permainan tradisional yang ia ajarkan ke anak-anak. Dari niat kecil untuk melestarikan permainan tradisional berubah menjadi padepokan Adem Ayom Ayem pada 2017. Tempatnya sederhana, tidak terlalu luas namun eksistensinya memikat hati.

Akhirnya setelah banyak pertimbangan, Mbah Raden mendirikan sebuah padepokan seni budaya Jawa. Di dampingi sang istri, Mbah Raden secara perlahan membangun pondasi padepokan secara bertahap. Hangat, ya!

“Waktu itu saya pikir kalau menghabiskan masa tua cuma buat duduk di rumah dan ngurusi sawah tidak akan membawa makna di hidup saya, makanya saya berpikir apa yang dapat saya lakukan supaya bisa membawa manfaat bagi banyak orang, akhirnya kepikiran untuk membangun padepokan ini,” Pernyataan dari Mbah Raden membuat hati saya tergerak untuk terus menggali perjalanan hidup beliau.

 

Tantangan dan Langkah Kecil Sebagai Solusi

Dari 83 kini menjadi 20 anak saja yang belajar di padepokan setiap tahunnya, penurunan minat anak-anak secara signifikan terus terjadi. Perkembangan zaman jelas menjadi tantangan tersendiri. “Apalagi pada perkembangan zaman modern ini kan kita tetap harus melestarikan seni budaya Jawa. Budaya kita tuh ga kalah dengan budaya luar kok” ungkap Mbah Raden.

Walau penurunan minat anak-anak terus terjadi, Mbah Raden dan sang istri tidak pernah berkecil hati. Justru dari situ Mbah Raden semakin bersemangat untuk belajar dan mengusahakan banyak cara untuk padepokannya. Salah satu langkah kecil yang Mbah Raden ambil ialah ketika beliau mendapatkan kabar bahwa Perpusnas akan menyumbangkan buku-buku yang dimilikinya, Mbah Raden langsung saja membuat proposal yang kemudian disetujui.

Keren, ya! Mbah Raden juga dihampiri oleh komunitas lebah yang secara suka rela memberikan banyak dukungan kepada anak-anak di padepokan Mbah Raden ini. Dari buku, boneka, globe, sampai lego semua untuk mendukung proses belajar anak-anak. Anak-anak yang belajar disana diwajibkan untuk membaca buku selama 10 menit sebelum  memasuki sesi belajar kesenian budaya Jawa yang di inginkan anak-anak. Eits, bisa milih mau belajar apapun dong berarti disitu? Senang ya!

“Anak-anak kalau disuruh baca buku itu kadang cuma diambil terus dibolak-balik kertasnya, suka bikin berantakan rak-rak buku. Tapi ya namanya anak kecil ya! Harus dibiasakan untuk membaca,” begitu keluh Mbah Wedok saat menceritakan tentang anak-anak. Mbah Raden dan Mbah Wedok berpendapat bahwa selain harus melestarikan seni budaya Jawa, anak-anak harus belajar tentang IPTEK dan menjadikan pembelajaran dipadepokan sebagai pendamping.

Yang menarik, anak-anak di padepokan tidak dikenai biaya sepeser pun. Mbah Raden tidak pernah meminta balas jasa dalam bentuk uang. Namun anak-anak memiliki kas pribadi yang iuran nya Rp1.000 per pertemuan. Uang itu dikelola sendiri oleh mereka untuk keperluan bersama seperti, piknik kecil-kecilan atau membeli air minum saat mendapat job pentas.

Waah! Bisa dapat kerjaan ya dari belajar disana. Walau kesenian bersifat musiman, Mbah Raden selalu mendapatkan tawaran untuk tampil loh! “Kami juga diundang untuk hadir  di Festival Kuliner Grobogan dalam rangkaian Semarak Kata Kreatif Jawa Tengah selama 2 hari, 17–19 April 2026,” jelas Mbah Raden.

 

Belajar Dari Anak-Anak     

Di tengah era modern ini, Mbah Raden masih terus bekerja keras dan belajar tentang seni budaya jawa. “Budaya itu luas, budaya itu bisa dari cara kita berperilaku dan berbicara. kalau seni itu di dalam budaya kita. Contohnya karawitan, tari, wayang, itu semua jadi satu” jelas Mbah Raden.

Seni budaya telah hidup pada diri Mbah Raden. Dengan kreativitas dan apresiasinya terhadap seni budaya ia menghidupkannya dalam Padepokan Adem Ayom Ayem. Melestarikan dan mewariskan seni budaya Jawa pada tangan generasi muda. Di akhir pertemuan kami Mbah Raden menyampaikan pesannya untuk generasi penerus bangsa yang berbudaya “Ayo terus lestarikan seni budaya Jawa.”


Komentar

×
Berhasil membuat Komentar
×
Komentar anda masih dalam tahap moderator
1000
Karakter tersisa
Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini