Detail Opini Siswa

Ketika Panggung Menyemai Karakter: Kisah Nadia Si Gadis Ketoprak

Selasa, 14 Juli 2026 08:11 WIB
  21 |   -

Ketika Panggung Menyemai Karakter: Kisah Nadia Si Gadis Ketoprak

*Arfinna Irmaretta Permatasari

 “Dulu waktu kecil, Nadia tuh anaknya cengeng, dimarahin dikit nangis,” begitu pernyataan Ibu Denok tentang si bungsunya. Gadis itu kini duduk tenang di hadapan saya. Nadia Tyas Issabela, siswi kelas XI SMAN 1 Wirosari yang menggeluti ketoprak. Eh, bukan ketoprak makanan itu, ya! Maksudnya seni ketoprak, kesenian teater tradisional asal Jawa. Seperti kata sang ibu, Nadia kecil hanyalah gadis lemah dan cengeng. Saya nyaris tak percaya, melihat sosoknya kini yang berani dan percaya diri. Dari situ, saya menyibak cerita teman saya, gadis desa yang karakternya ditempa oleh seni.

Rasa penasaran membawa saya menyusuri Dusun Welahan, Desa Tambakselo, Wirosari, Grobogan. Jalan terjal diapit dua sawah dan sentuhan terik matahari saya lalui hingga tiba di kediamannya. Satu langkah memasuki ruang tamu, deretan foto berjejer di tembok langsung menyita perhatian. Di antaranya potret Nadia, ibu, dan ayahnya kelihatan cakap berpose dalam balutan busana ketoprak. Seketika terasa aliran seni mengalir deras dalam tubuh keluarga ini. Dalam pigura lain, tampak seorang pemuda berseragam polisi berdiri tegap. Ialah kakak laki-laki Nadia, seolah menjadi penanda bahwa di keluarga ini seni dan pengabdian berjalan beriringan.

 

Langkah Pertama Nadia di Atas Panggung                

Di usia yang baru 16 tahun, Nadia terbilang masih belia untuk menjajal panggung ketoprak. Ia jatuh hati pada seni ketika usia 5 tahun. Barulah di usia ke-11 ia serius menekuni tari. Panggung pertamanya di Dusun Ngaronan sebagai penari Gambyong. Punya orang tua dengan background seni, Nadia semakin bergairah untuk belajar. Apalagi support mereka, ada ibu yang mengajari dan ayah yang menyediakan sanggar untuk mewadahi kebolehannya dalam menari. Manis, ya! “Waktu umur lima tahun saya udah suka tari. Tapi masih malu-malu, nyoba aksesoris aja. Pas udah sebelas tahun mulai berani tampil,” ujarnya.

Dari situlah, panggung demi panggung ia tapaki. Nadia mulai dapat tawaran job

ketika ada pementasan. Selain cari “cuan” untuk kebutuhan sendiri, ia menjadikan ketoprak sebagai ladang menyalurkan hobi.

Di luar tari, Nadia gemar main gitar dan bernyanyi. Saya ingat, ia sering menyumbang suara emasnya dalam acara sekolah. Nadia juga menaruh minat pada renang dan bela diri. Di SMA, ia bergabung dalam ekstra paskibra, rohis, karawitan, dan pencak silat. Multitalent, deh! Tapi kenapa tidak ikut ekstra tari, ya? Ternyata belajar tari bisa ia lakukan sendiri di rumah. Eits, ini bukan sombong kok! “Saya nggak ikut tari karena jadwalnya tabrakan sama pencak silat, jadi saya milih pencak silat karena kalo di rumah nggak ada yang ngajarin,” jelasnya.

 

Cerita Sekar Budoyo dan Sang Maestro

Di balik gerakan Nadia yang luwes, ada sanggar milik orang tuanya tempat ia menyemai kelihaian, Sanggar Sekar Budoyo. Sanggar ini lahir dari ketertarikan pasangan seniman Bapak Parno (46) dan Ibu Nurpiyaningsih atau yang kerap disapa Ibu Denok (41). Fun fact, nih! Bapak Parno pernah diundang tampil di salah satu siaran televisi nasional, lo!

Namun, lantaran pentas ketoprak tergolong musiman, Bapak Parno dan Ibu Denok tak hanya mengandalkan penghasilan dari seni semata. Mereka juga bertani untuk menopang kebutuhan sehari-hari. Yuk, mundur sejenak mengulas masa awal berdirinya Sanggar Sekar Budoyo, sanggar kebanggaan Dusun Welahan!

Semua bermula dari kecintaan sederhana Bapak Parno dan Ibu Denok di dunia lakon. Keduanya mulai beradu peran sejak usia muda secara otodidak dengan mengikuti sanggar orang lain. Seiring berjalannya waktu, muncul sebuah pertanyaan di lubuk Ibu Denok, “Kenapa aku nggak bikin sanggar sendiri, ya?” Hingga akhirnya pada tahun 2009, berdirilah sanggar ketoprak dengan nama Sri Kencono. Eh, bukannya tadi Sekar Budoyo? Lantas, ada cerita apa di balik perubahan nama sanggar? Lambat laun, muncul sanggar lain dengan nama serupa, Sri Kencono. Tak ingin disamakan, tahun 2018 mereka mengganti nama menjadi Sekar Budoyo. “Sekar artinya bunga. Semoga budaya kita bermekaran harum layaknya bunga,” kata Ibu Denok, mengungkap makna di balik jenama Sekar Budoyo. Wah, idealis sekali, Bu!

Kini, sekitar 50 orang berpadu dalam sanggar, mulai dari pemain lakon, pemain gamelan, penari, hingga tim dekorasi. Ada wajah muda yang baru tumbuh, ada pula yang renta tapi semangatnya tak pudar. Duh! Sayangnya, sekarang tanggapan ketoprak sudah tak seramai dulu. Krisis ini menjadi tantangan tersendiri bagi Sekar Budoyo. “Sekarang tanggapan sudah agak sepi karena banyak hiburan lain yang lebih murah seperti solo organ, tayuban,” ujar Bapak Parno.

 

Peluh di Setiap Gerak

Nah, setelah mengenal Sanggar Sekar Budoyo, kini saatnya menyelami lika-liku perjalanan Nadia. From zero to hero. Dulu Nadia hanya gadis kecil pemalu yang sembunyi di balik layar. Kini ia berdiri tegak di panggung, piawai menari. Ini tak lepas dari peran Ibu Denok yang menuntun putrinya. Meski Nadia belum pernah memerankan tokoh, ia mengaku belum tertarik untuk berlakon dan lebih fokus menjadi penari.

Tapi perjalanan dari "nol" ke "pahlawan" tak singkat. Baginya, yang susah adalah menyesuaikan gerak dengan tempo gamelan. Tapi ia tak menyerah, semakin banyak latihan, semakin banyak belajar. Perkara manajemen waktu juga tak kalah penting. Perlu digaris bawahi bahwa Nadia masih pelajar. Lalai sedikit, ia akan kewalahan. “Pentas kan di luar jam sekolah, jadi semua tugas udah saya kerjakan di sekolah, berangkat pentas udah nggak ada tanggungan PR,” ucapnya. Salut, ya!

Wah! Ada satu pentas yang menjadi kebanggaan tersendiri bagi Nadia. Tahun 2019, Nadia mendapat kehormatan menari untuk menyambut anggota DPR Provinsi Jawa Tengah. Panggung megah, tamu penting, dan sorot lampu terang. Namun, tak semua momen berjalan mulus. Pernah suatu ketika, irah-irahan (hiasan kepala) yang ia pakai bergeser. Ia baru sadar usai melihat foto bersama setelah pentas. Kocak, deh!

 

Karakter yang Ditempa

Siapa sangka, seorang gadis dapat belajar kesabaran, keberanian, kerja sama, dan tanggung jawab dari seni. Itulah yang dialami Nadia. “Sebelum kenal seni, mental saya mental ‘tempe’, nggak punya tanggung jawab. Tapi semenjak kenal seni, saya jadi lebih disiplin, tanggung jawab, dan percaya diri,” katanya. Orang tuanya pun merasakan perubahan itu. “Dulu waktunya hanya main-main, sekarang karena terbatas untuk sekolah dan pentas, jadi lebih disiplin,” tutur sang ayah.

Nadia sendiri punya mimpi yang berbeda. Dulu sempat terbesit ingin kuliah seni.

Namun, pilihannya berubah. Kini, ia bercita-cita bekerja di kejaksaan, selaras dengan jurusan IPS-nya. Ibu Denok tersenyum. “Pokoknya saya selalu dukung apapun itu keputusan Nadia, selama masih positif dan baik.”

Di tengah derasnya arus modernitas yang mulai menggerus budaya lokal, kisah Nadia dan Sanggar Sekar Budoyo menjadi oase yang menyegarkan. Seorang remaja yang

karakternya ditempa oleh keluwesan tari, ketukan gamelan, dan nilai luhur dalam setiap panggung ketoprak. Baginya, seni tari adalah bahasa tubuh yang paling indah. Nadia membuktikan bahwa mencintai seni budaya secara kreatif adalah cara efektif memperkuat identitas bangsa. Ia tak harus jadi seniman profesional. Cukup membiarkan nilai seni hidup dalam dirinya.

“Mekaring budaya, mahanani kuncaraning bangsa (berkembangnya budaya berguna untuk mengenalkan negara kita),” ucap Bapak Parno. Sebagai pelaku seni yang telah berkecimpung di dunia hiburan cukup lama, Bapak Parno dan Ibu Denok berpesan agar lebih banyak generasi muda yang mengenal budaya Jawa, khususnya ketoprak. Dengan begitu, seniman ketoprak seperti mereka dapat kembali menguasai pasaran di bidang seni. Melalui Sanggar Sekar Budoyo, mereka tak hanya mewariskan seni ketoprak, tapi juga nilai yang akan menemani anak-anak muda ke mana pun mereka melangkah.

 


Komentar

×
Berhasil membuat Komentar
×
Komentar anda masih dalam tahap moderator
1000
Karakter tersisa
Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini