Detail Opini Siswa

Kembali Pulang

Selasa, 14 Juli 2026 08:11 WIB
  21 |   -

Kembali Pulang

(Karya Ceiza Rahma Azzura)

 

Beep, Beep, Beep! Suara alarm samar-samar keluar dari ponselku, tanganku bergerak lunglai di atas nakas, meraba-raba permukaan kayu yang dingin, mencari benda berisik itu. Begitu jariku menyentuh ponsel, aku segera menekan asal-asalan hingga suara itu mati. Sunyi kembali menyergap, kesadaranku baru terkumpul separuh setelah alarm berbunyi. Aku menggeliat pelan di atas kasur, merasakan tubuhku yang masih berat dan lunglai, rasanya enggan untuk membuka mata.

Aku membuka mata perlahan, kesadaranku langsung tertuju pada satu keinginan yang mendesak, aku ingin kembali pulang. Ada kerinduan yang tiba-tiba menyesak dada, ada keinginan untuk berlindung di balik masakan ibu, dan kehangatan kasih sayang ibu. Aku bangun dari tidurku, mengusap mata dan tanganku yang lain meraih ponselku yang masih tergeletak di atas nakas, aku menyalakan ponsel dan mencoba menghubungi ibuku.

Tuut.. Tuut.. Tuut.. Tak ada jawaban, setelah tiga kali diabaikan, aku menyerah. Dengan sisa tenaga yang ada, aku mengetik pesan singkat, ‘Bu, Chandra pulang hari ini. Nanti masakin Chandra opor ya, Chandra kangen masakan Ibu,’ aku sempat bingung, karena tak biasanya ibu mengabaikan panggilan masuk dariku, namun dengan cepat aku menyingkirkan pikiran negatif ku. “Mungkin Ibu sedang sholat atau ngaji, apalagi ini masih jam tiga pagi.” Pikirku, akupun bangkit dari kasurku lalu berjalan menuju kamar mandi.

Uap air menyelimuti kamar mandi saat aku keluar dengan rambut basah, harusnya kepalaku terasa lebih ringan saat diguyur air, tapi pandanganku langsung menuju satu titik, yaitu ponselku yang berada diatas nakas. Dengan cepat aku mengambil ponsel itu dan berharap ada notifikasi yang muncul disana, tapi sayangnya kenyataan tak sesuai harapanku, ponselku masih sama saat sebelum aku pergi mandi, bahkan ibu sama sekali tak membaca pesanku atau menghubungiku kembali. Aku mulai merasa bingung dengan sikap ibu yang tiba-tiba berubah, namun aku tetap berusaha untuk tak berpikir buruk.

Setelah menyiapkan semua barang-barangku, aku masih menunggu jawaban ibu di ponselku, namun ponselku masih saja bungkam. Aku memutuskan untuk berangkat saat itu juga, karena menunggu jawaban ibu hanya membuat pikiranku semakin berantakan. Aku mengambil jaket dan kunci motorku lalu berjalan keluar rumah sambil membawa barang-barangku. Aku keluar rumah, melihat pemandangan yang masih nampak gelap, aku menuju motorku dengan barang bawaanku, menatanya rapi di motor, supaya tak terjatuh atau menghalangiku saat perjalanan.

Setelah menata semua barang bawaanku, aku menyempatkan untuk melihat ponselku sebentar, namun masih saja tak berubah sedari tadi, ibu masih belum menjawab pesanku atau bahkan membuka chatku. Aku memulai perjalanan dengan perasaan bingung dan sedih karena diabaikan ibu, pikiranku mulai berantakan, namun aku tetap berusaha berpikir positif dan fokus dalam perjalananku.

Di tengah perjalanan, aku melihat warung martabak kesukaan ibu saat mengunjungiku, terlihat abang penjual yang baru saja selesai menata dagangannya, tanpa piker panjang, aku langsung menghentikan kendaraanku di samping toko martabak itu. Aku memesan satu martabak manis dengan kacang, rasa bahagia muncak saat membayangkan wajah senang ibu kalau tahu aku membawakan dia martabak kesukaannya.

Setelah pesananku selesai, aku segera membayar dan melanjutkan perjalanan. Sambil memacu kendaraan, ada setengah harapan menyelusup diantara rasa sedihku. Aku berharap aroma manis dari martabak manis ini menjadi pembuka jalan agar aku tak merasa malu saat mengadu duniaku yang sekarang tidak baik-baik saja.

Sesampainya aku di depan rumah, aku merasa kalah, aku merasa hancur, proyek besar yang selama ini aku usahakan hancur karena kesalahanku sendiri. Sekarang yang kubutuhkan hanyalah kehangatan dari seseorang yang sudah lama tak aku rasakan. Pandanganku langsung mengarah kerumah tua dengan cat yang sudah mengelupas, disana ada seseorang yang sangat berharga bagiku.

Aku melangkah masuk ke halaman yang sudah di tumbuhi rumput liar, rasa rindu seketika menghantamku. “Bu, Chandra pulang.” Kataku sambil membuka pintu. Hening, tak ada jawaban.. Aku melangkah masuk kerumah, mataku reflek mengarah ke sekeliling rumah, namun aku yakin ibu pasti sedang pergi ke pasae sekarang. Rasanya aku sudah lama tidak mendengar suara ibu, karena selama lima tahun aku pergi merantau, aku selalu sibuk dengan proyekku di kota, membuatku selalu mengabaikan panggilan masuk dari ibu, kalaupun aku menjawab panggilan darinya, mungkin hanya sekedar ucapan, “sudah makan, Nak?”

Aroma sedap yang berasal dari meja makan mencuri perhatianku, aroma yang sangat akrab bagiku. Aku membuka tudung saji di meja makan, seketika aroma sedap itu menyebar keseluruh ruangan, aroma itu berasal dari makanan kesukaanku yang selalu di masakan oleh ibu, yaitu sayur opor. Sudah lama sekali rasanya aku tak merasakan masakan buatan ibu, aku teringat saat akan berangkat merantai lima tahun lalu, ibu menyuapiku sayur opor saat aku sedang sibuk menyiapkan barang-barangku, aku tersenyum saat kenangan itu melintas di kepalaku.

“Loh, kapan datang, Chan?” Aku menoleh, itu tante Jena, adik bungsu ibu. Wajahnya terlihat sembab dengan senyuman hangat yang ia berikan untuk menyambut kedatanganku. “Baru aja Tan, Ibu kemana? Kok tumben ga bales chatnya Chandra? Tanyaku sambil menarik kursi yang berderit. Aku mengambil piring dan tak sabar untuk menikmati masakan ibu. Aku langsung menyuap nasi dengan lahap, rasa ini tak pernah kutemukan di rumah makan bintang lima manapun.

“Ibumu yang minta Tante masak opor kalau kamu pulang nanti,” suara tante gemetar. “Loh, Tante yang masak? Memangnya Ibu kemana, kenapa engga Ibu aja yang masak? Oh ya, nanti kalau Ibu pulang, tolong sampakan maafnya Chandra, karena kemarin-kemarin Chandra ga sempet kabarin Ibu atau angkat telepon dari Ibu. Proyeknya Chandra berantakan Tan, Chandra butuh nasihat Ibu, tapi nanti aja pas Ibu sudah pulang, soalnya Chandra nanti habis makan mau langsung tidur, cape perjalanan.” Tante  Jena mendekat kearahku, memegang pundakku dengan tangan sedikit gemetar, ia menghela napas lalu mulai berbicara, “Chandra, sadar.. Ibumu sudah meninggal dua bulan lalu, tepat saat kamu mematikan ponselmu dan mengabaikan panggilan masuk dari ibumu di tengah rapat besar itu. Saat itu, ibumu sangat ingin mendengarkan suaramu untuk terakhir kalinya, namun sepertinya kamu sedang sibuk dengan duniamu sendiri. Dan Tante tadi sempat melihat notifikasi darimu di HP Ibumu, sadar Chandra, ikhlaskan keprgian ibumu..”

Aku terdiam seketika, lalu menoleh kearah tanteku dengan tatapan tidak percaya, dunia seolah berhenti berputar. “Gak.. Gak mungkin! Ibu masih sering menghubungi Chandra pas Chandra di kota, Ibu masih sering menanyakan kabarnya Chandra, dan masakan ini.. Ini masakan Ibu, ini rasa Ibu!” Suaraku meninggi, sebuah penyangkalan yang menyakitkan. Tante jena berusaha menenangkanku, ia memberiku segelas air. Setelah aku meminum air dan mulai tenang, perlahan tante mulai membuka pembicaraan, ia mencoba meluruskan pikiranku.

“Saat kamu pergi jauh dari Ibumu, dia tak pernah berhenti mendoakan mu dan selalu merindukan mu. Tapi bagaimana denganmu? Bahkan menghubungi ibumu sekali saja kamu tak pernah, selalu Ibumu yang menghubungimu duluan, dan selalu saja dia yang menanyakan kabarmu, tapi kamu sama sekali tak pernah penasaran dengan kabar ibumu. Ibumu mengajari Tante masakan ini, supaya saat kamu pulang dan Ibumu sudah tak ada di dunia ini, kamu masih bia merasakan kehadirannya di masakkan ini. Apa kamu lupa kalau ibumu sedang sakit-sakitan? Ibumu pernah bilang ke Tante ‘Chandra itu kalau lagi sedih, dia cuman mau makan opor ini,’

Penyesalan datang bukan seperti gerimis, tapi seperti air yang menjebol bendungan. Aku tak kuasa lagi menahan air mataki, aku menangis sejadi-jadinya di depan piring yang masuh penuh separuh. Aku kehilangan nyawa yang menanamkan nilai padaku, aku sukses membangun gedung, namun aku membiarkan akarku membusuk karena diabaikan. Dan aku masih belum bisa membalas apa yang ibu berikan kepadaku selama ini.

Rasa masakan kali ini berbeda, rasanya pahit setiap suap, biasanya hangat dan membuatku tenang. Setelah makan, tante mengantarkan aku ke gundukan tanah dibawah pohon bessar yang udaranya terasa sejuk. Disana, diatas nisan kayu yang tertulis nama ibuku, aku bersimpuh.

“Bu, Chandra pulang,” bisikku pelan. Kali ini tidak ada jawaban, tidak ada senyuman, tidak ada pelukan sambutan bahkan ciuman, hanya keheningan. Namun, aku sadar bahwa meskipun di akhir hayatnya, ibu masih memikirkan makananku, nilai kasih sayang dan ketulusan hatinya yang ia titipkan lewat masakan itu adalah fondasi yang akan membawaku bangkit kembali.

Angin menghembus kencang, aku tersenyum karena merasakan kehadiran ibu disini, aku merasa dimaafkan bahkan sebelum aku mengucapkam kata maaf pada ibu. Aku merasa tenang, aku merasa hangat walau angin yang menghembus terasa dingin, aku melihat nisan kayu ibu, mengelus nisan itu, “makasih ya Bu. Chandra janji, Chandra akan selalu pulang mengunjungi Ibu setiap Tahun…” Aku merasa sangat tenang setelah mengatakan itu, seolah-olah ibu sedang memberiku senyuman hangat, senyuman yang selalu ia berikan padaku (2026).


Komentar

×
Berhasil membuat Komentar
×
Komentar anda masih dalam tahap moderator
1000
Karakter tersisa
Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini