
Krisis pembelajaran yang terjadi akibat pandemi Covid-19 menjadikan pendidikan semakin tertinggal dengan hilangnya pembelajaran (learning loss). Hal ini berimbas pada kegiatan pembelajaran di sekolah menjadi pembelajaran secara mandiri oleh siswa yang dilakukan di rumah saja (Fahrina, dkk 2020). Untuk itu diperlukan suatu usaha untuk memulihkan pembelajaran pasca pandemi tersebut. Pemerintah melalui Kemendikbudristek meluncurkan Merdeka Belajar episode ke 15 yaitu Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar.
Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran di sekolah di sesuaikan dengan keadaan, karakterististik, kebutuhan, serta kemampuan sekolah yang dituangkan dengan kurikulum. Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) yang ditawarkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Nomor 262/M/2022 memberikan keleluasaan kepada satuan pendidikan untuk menentukan pilihan berdasarkan kesiapan guru dan tenaga kependidikan dalam melaksanakan Kurikulum Merdeka.
Kurikulum Sekolah adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Dengan demikian warga sekolah dapat lebih memahami, mengenal dengan baik, dan merasa memiliki kurikulum tersebut. Pengembangan dan penyempurnaan kurikulum yang berkelanjutan merupakan keharusan agar kurikulum selalu sesuai dengan kebutuhan serta capaian pembelajaran yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan dan profil pelajar pancasila.
Namun kenyataannya, pembelajaran seni budaya yang berlangsung di SMAN 1 Wirosari, Kabupaten Grobogan masih menggunakan pola teacher centered, dimana guru masih memjadi pusat dalam pemerolehan informasi dalam kegitan pembelajan, untuk itu diperlukan suatu gebrakan dalam kegiatan pembelajaran yang dapat memberdayakan siswa untuk merdeka dalam belajar sesuai dengan karakteristik, bakat minat, serta kemampuannya. Sehingga siswa dapat berkarya untuk mempersiapkan kehidupannya di masa yang akan datang. Mempersipakan mereka untuk hidup selamat dan berkembang sesuai dengan zamannya.
Dengan mengakomodasi potensi yang ada pada peserta didik, maka siswa memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, berkarakter dan berbudi pekerti luhur dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab terhadap lingkungan. Sehingga Siswa kelas X di SMAN Wirosari, Kabupaten Grobogan mempunyai keterampilan abad 21 atau 4C yaitu Communication, collaboration, Critical Thinking and Problem Solving, Creativity and Innovation.
Dengan menguasai keterampilan 4C melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang tidak hanya sekedar membaca dan menulis melainkan mencakup keterampilan berpikir menggunakan berbagai sumber baik cetak, visual, digital dan auditori. Juga dalam pembelajaran menerapkan Higher Order of Thinking Skill (HOTS) yaitu dalam kegiatan pembelajaran melatih kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitf sebagai bekal bersaing dalam kancah dunia.
Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi siswa disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan siswa serta tuntutan lingkungan yang berkarakter dan berbudi pekerti luhur. Sesuai dengan dimensi Profil Pelajar Pancasila yaitu Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia, Berkebhinnekaan Global, Gotong Royong, Mandiri, Kreatif, dan Bernalar kritis. Dengan pola pembelajaran yang memerdekakan siswa sesuai dengan karakteritik, bakat, minat serta potensinya, maka siswa dapat berkembang sesuai dengan zamannya, sehingga dapat selamat serta bahagia dalam menjalani kehidupan dimasa depan dengan bekal karya-karya yang mereka pelajari dan mampu diaplikasikan dalam kehidupan nyata.
Drs. H. Arif Yulianto, M.Pd. Guru SMA N 1 Wirosari, Kabupaten Grobogan
Jadilah yang pertama berkomentar di sini